Kupang, NTT (KABARIN) - Psikolog Abdi Keraf menilai permainan tradisional dapat menjadi alternatif yang positif bagi anak-anak di tengah penerapan PP Tunas yang mengatur pembatasan penggunaan media sosial. Menurutnya, aktivitas tersebut mampu mendukung perkembangan anak, terutama dalam aspek interaksi sosial serta kematangan emosi.
“Bermain dan mengekspresikan diri tidak harus selalu melalui media sosial. Anak-anak bisa berkelompok, berkumpul, dan belajar bersama dalam berbagai konteks. Di sinilah permainan tradisional berkontribusi bagi tumbuh kembang anak-anak,” kata akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) itu di Kupang, NTT, Senin.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak dimaksudkan untuk membatasi hak maupun ruang gerak serta ekspresi anak.
Menurutnya, masih banyak cara lain yang lebih sehat untuk menyalurkan ekspresi diri, salah satunya melalui permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan.
“Jangan melihat bahwa permainan tradisional yang dulu dimainkan oleh orang tua itu sudah tertinggal atau kolot. Justru di dalam permainan tradisional terdapat nilai-nilai positif, seperti interaksi sosial, kekerabatan, spiritualitas, dan moral. Ketika anak menikmati permainan itu, justru membantu mengembangkan kecerdasan emosi dan sosial mereka,” jelasnya.
Ia mendorong agar orang tua, guru, dan komunitas sekitar turut mengajak anak kembali pada aktivitas sosial langsung di lingkungan mereka.
Dengan begitu, anak-anak bisa menghabiskan waktu bersama teman sebaya tanpa bergantung pada gawai, melainkan berinteraksi, bermain, dan beraktivitas secara kelompok.
Menurutnya, pengalaman sosial langsung ini tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh media sosial karena sifatnya yang lebih individual.
“Hal-hal ini tidak selalu bisa didapatkan melalui media sosial. Ketika anak mengakses media sosial, sifatnya lebih individual. Apa yang mereka lihat tidak selalu melalui proses penyaringan atau edukasi dari orang dewasa maupun teman sebaya. Mereka menerima sendiri, memproses sendiri. Jika tidak memiliki pemahaman yang cukup, maka stimulus yang diterima akan langsung memengaruhi mereka,” katanya.
Ia menambahkan bahwa proses tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal pengendalian emosi dan pola pikir, akan lebih terbentuk melalui pengalaman langsung di kehidupan sosial.
“Sebagai seorang psikolog, saya juga berharap bahwa peraturan yang dikeluarkan ini benar-benar disosialisasikan dengan baik, sehingga semua pihak dapat menerima dan memahami tujuannya secara positif,” ujarnya.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026